
SIDOARJO - Sekitar 80 Korban lumpur Lapindo yang menginap di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sidoarjo, melakukan shalat idul fitri di Masjid Agung Sidoarjo. Tapi, mereka tidak menyatu dengan jama'ah lain, melainkan membuat barisan sendiri di depan pagar DPRD Sidoarjo yang letaknya bersebelahan dengan masjid.
Mereka, korban Lapindo, juga akan berlebaran di depan DPRD Sidoarjo. "Kami sudah tidak punya rumah, kontrakan kami sudah habis, jadi kami akan berlebaran di sini," kata Ahmadun (37), korban asal Jatirejo yang hadir bersama istri dan ketiga anaknya.
Aksi bertahan yang dilakukan korban sejak sebulan lalu ini tidak digubris oleh bupati Sidoarjo terpilih, Saifulilah, yang juga masih menjabat wakil bupati. Saat meninggalkan lokasi, Saifulilah tidak menoleh ataupun bersilaturahmi dengan korban. Kordinator aksi, Zainal Arifin, mengatakan, bahwa sikap yang ditunjukkan Saifulilah adalah bentuk ketidakpedulian pemerintah terhadap korban Lapindo.
Korban Lapindo yang tinggal dan bertahan di depan DPRD Sidoarjo berasal dari epat desa, Siring, Jatirejo, Kedungbendo dan Renokenongo. Mereka melakukan aksi tersebut dilatarbelakangi berbagai tuntutan korban.
"Di hari idul fitri ini, kami akan tetap bertahan sampai pemerintah memenuhi tuntutan kami," kata Zainal Arifin, setelah shalat idul fitri di depan pagar DPRD Sidoarjo. (mi/vik)
(c) Kanal News Room



