Tema terakhir inilah yang begitu diharapkan oleh publik saat mendengarkan program dan janji-janji yang diucapkan oleh calon gubernur/calon wakil gubernur Jatim.
Sayang, tidak satu pun cagub/cawagub yang menjawab secara eksplisit terhadap dua hal itu sehingga konstituen umumnya tidak puas terhadap program yang ditawarkan.
Memang ada satu cagub/cawagub yang relatif memiliki
keberpihakan terhadap persoalan Lapindo ini, namun program itu tidak disebarkan
secara ekstensif pada masa kampanye, tetapi baru diuraikan dalam debat publik
terakhir (19/7/2008) yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi nasional.
Dari segi substansi, sebetulnya faktor apa yang membuat dua soal itu begitu
penting di Jatim?
Perangkap Lapindo
Pada 2006, Bank Dunia
memublikasikan kekayaan seluruh negara di dunia dengan memasukkan tiga variabel,
yakni modal alam, modal tak berwujud (intangible), dan modal ciptaan.
Hasilnya, umumnya negara-negara yang memiliki modal alam besar justru total
kekayaannya sangat rendah.
Indonesia, yang memiliki karakteristik
seperti itu, total kekayannya (per kapita) jauh di bawah Singapura, Korea,
Thailand, Malaysia, dan Filipina (Bank Dunia, 2006). Dalam hal ini, Indonesia
hanya sedikit lebih baik ketimbang China. Di internal Indonesia sendiri,
kasusnya juga mirip, di mana wilayah (provinsi) yang memiliki kekayaan sumber
daya alam (SDA) justru terperosok menjadi provinsi miskin.
Jawa Timur
juga tidak terlepas dari kisah itu, di mana kekayaan SDA yang dipunyai justru
membuat wilayah ini terbelakang dari banyak aspek. Misalnya, pendapatan/kapita
Jatim di bawah pendapatan/kapita nasional dan persentase penduduk miskinnya jauh
lebih tinggi ketimbang rata-rata nasional.
Dalam bingkai seperti itulah
persoalan lingkungan menjadi penting dalam konteks pembangunan ekonomi. Di
Jatim, soal lingkungan yang terbesar sebetulnya bukanlah kasus Lapindo,
melainkan kian habisnya hutan dan jumlah lahan kritis yang terus membesar.
Tercatat, sekarang hutan lindung di Jatim lebih dari 50% kawasannya
dalam kondisi kritis, misalnya Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Meru
Betiri, Kawah Ijen, Pegunungan Hyang-Argopuro, Taman Nasional Baluran, Kawaswan
Gunung Tarub, dan Bromo Tengger Semeru. Sedangkan total lahan kritis di Jatim
tidak kurang dari 1 juta ha, di mana jumlah ini setara dengan luas lahan sawah
di Jatim.
Masalah inilah yang sebetulnya menjadi pemicu bencana banjir
dan kekeringan di Jatim. Namun, eskalasi masalah ini berada di bawah kasus
Lapindo akibat letaknya yang tidak berada di pusat kegiatan ekonomi dan "tidak
terdapat" korporasi besar di balik kerusakan lingkungan itu.
Pada titik
inilah kemudian kasus Lapindo menjadi "seksi" karena mempertemukan banyak
kepentingan. Tawaran program yang dibutuhkan dari soal ini sebetulnya hanya dua
hal. Pertama, kejelasan dari cagub/cawagub untuk menempatkan kasus itu sebagai
masalah bencana (alam) atau malpraktik korporasi. Pemilihan sikap terhadap
penyebab masalah tersebut akan berimplikasi luas terhadap kepentingan yang lebih
besar.
Kedua, bagaimanakah mendudukkan posisi korban (penduduk) yang
secara langsung terkena dampak lumpur Lapindo. Tentu saja ekspektasi korban
bukan hanya "ganti rugi" yang diharapkan, tetapi "ganti untung" (materi dan
non-materi) karena implikasi kasus itu sangat besar.
Sayang, memang
tidak mudah mengambil sikap dalam kasus ini karena sebagian kewenangan bukan di
tangan provinsi, sehingga bisa dipahami bila cagub/cawagub tidak bersikap
eksplisit. Namun, setidaknya untuk poin yang kedua sikap itu seharusnya dapat
ditunjukkan.
Pembelahan Birokrasi
Hampir bisa disepakati
bahwa sebagian besar kegagalan implementasi pembangunan bukan akibat kelangkaan
konsep kebijakan, melainkan kegagapan birokrasi untuk mengawal kebijakan
tersebut. Di luar masalah sistem rekruitmen yang kacau dan political
interest yang tinggi, di tubuh birokrasi juga tersembul patologi model
patron yang sangat kuat.
Implikasinya, setiap kebijakan yang disorong
oleh satu kelompok tertentu dapat dipastikan akan dijegal oleh kelompok yang
lain. Tidak bisa dihindari, hal yang sama juga terjadi dalam birokrasi di Jatim,
bahkan dapat disaksikan secara kasat mata.
Pembelahan kepentingan
antarkelompok birokrasi tersebut sudah sangat menyedihkan sehingga kebutuhan
reformasi bukan sekadar mendesain ulang sistemnya, tetapi juga mendisiplinkan
perilaku aktor-aktor yang berada di dalamnya. Tentu saja ini bukan hanya
membutuhkan komitmen dari pemimpinnya, tetapi memastikan pemimpin itu bukan
bagian dari kelompok kepentingan.
Keberhasilan reformasi birokrasi,
seperti di Lamongan (Provinsi Jatim), Sragen dan Kebumen (Provinsi Jateng),
Jembrana (Provinsi Bali), dan Provinsi Gorontalo, merupakan contoh telanjang
yang menerangkan bahwa reformasi birokrasi juga butuh jarak antara pemimpin dan
masalahnya (bukan sekadar sistem), sehingga sensitivitas dan kredibilitas terus
terjaga.
Poin-poin itu yang mestinya dapat dieksplorasi secara mendalam
dalam debat cagub/cawagub, sekaligus diusung dalam platform tertulis, sehingga
memudahkan pemilih (khususnya pemilih terdidik) dalam menentukan sikap dukungan
terhadap cagub/cawagub. Tetapi, lepas dari itu semua, ajang pilgub langsung
pertama di Jatim telah memberikan banyak pembelajaran bagi khalayak, termasuk
jenis kampanye yang membodohi publik.
Selamat memilih, Jatim!
Ahmad Erani Yustika PhD, ketua Program Studi Magister
Ilmu Ekonomi, Pascasarjana Fakultas Ekonomi - Universitas Brawijaya
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|








kami Do'akan semoga perjuangan warga ...
kasihan para korban lumpur lapindo, m...
awalnya di perkirakan kelalaian seka...
ga kuat mo kasih komentar.....cm bs i...