Portal Korban Lapindo

Wednesday
Feb 08th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Menyoal Gagasan Wisata Lumpur Lapindo

E-mail Print PDF

Firdaus Cahyadi - Menjelang empat tahun usia semburan lumpur Lapindo, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meluangkan waktunya untuk mengunjungi kawasan Porong, Sidoarjo, yang telah hancur lebur akibat semburan lumpur. Kunjungan Presiden SBY tentu saja pantas diapresiasi karena selama ini timbul kesan bahwa negara telah meninggalkan korban lumpur.

Namun, sayang, apresiasi terhadap kunjungan Presiden SBY ke Porong tiba-tiba sirna dengan munculnya gagasan Presiden untuk menjadikan kawasan lumpur Lapindo sebagai sebuah obyek wisata geologis. Gagasan tersebut pantas mendapat tentangan dari masyarakat. Pasalnya, kawasan itu sebenarnya dapat dikategorikan kawasan beracun yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Seperti ditulis dalam buku Bahaya Industri Migas di Kawasan Padat Hunian, yang diterbitkan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), peneliti dari Institut Pertanian Bogor, Dr Dwi Andreas Santosa, menemukan kandungan logam berat berupa cadmium (Cd), chromium (Cr), arsen, dan merkuri serta kandungan bakteri patogen (pembawa bibit penyakit), seperti coliform, salmonella, dan stapylococcus aureus, dalam lumpur Lapindo di atas ambang batas yang disyaratkan.

Bukan hanya air dan lumpur yang mengandung racun, lumpur Lapindo juga dinilai telah menyebabkan polusi udara di kawasan Porong dan sekitarnya. Bahkan, dalam kaitan dengan semburan lumpur Lapindo, dalam rekomendasinya, Gubernur Jawa Timur pada Maret 2008 telah menyebutkan bahwa kandungan hidrokarbon di udara telah mencapai 55 ribu ppm. Padahal ambang batas normalnya hanya 0,24 ppm.

Hal itu kemudian diperkuat oleh temuan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Timur pada Oktober 2008, yang menemukan adanya peningkatan jumlah orang yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Porong. Pada 2006, saat munculnya semburan Lapindo, jumlah penderita ISPA mencapai 26 ribu orang, tapi pada 2008 meningkat menjadi 46 ribu orang.

Tak hanya sampai di situ, tanah di sekitar kawasan semburan lumpur Lapindo juga berpotensi mengalami penurunan (subsident). Bahkan penurunan tanah di Porong, Sidoarjo, juga terjadi di luar wilayah pusat semburan lumpur di sumur Banjar Panji-1. Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto pun tidak berani menjamin area relokasi tol Porong aman dari semburan lumpur maupun subsident. Nah, alangkah berbahayanya jika kemudian kawasan itu dijadikan obyek wisata geologis.

Selain kondisi ekologis yang tidak memungkinkan, gagasan untuk menjadikan kawasan semburan lumpur menjadi obyek wisata geologis berpotensi menghapus jejak berbagai pelanggaran yang telah terjadi pada kasus semburan lumpur di Sidoarjo.

Serangkaian pelanggaran itu antara lain dihilangkannya hak atas informasi publik berkaitan dengan risiko eksplorasi pertambangan di kawasan padat huni, seperti di Porong, Sidoarjo. Padahal penentuan lokasi sumur migas Lapindo di kawasan Porong tidak sesuai dengan ketentuan Badan Standar Nasional Indonesia tentang operasi pengeboran darat dan lepas pantai di Indonesia.

Ketentuan Standar Nasional Nomor 13-6910-2002 itu menyebutkan bahwa sumur pengeboran migas harus dialokasikan sekurang-kurangnya 100 meter dari jalan umum, rel kereta api, pekerjaan umum, perumahan, atau tempat-tempat lain yang berpotensi menimbulkan sumber nyala api. Sementara itu , sumur Banjar Panji-1 hanya berada 5 meter dari wilayah permukiman, 37 meter dari sarana publik, dan kurang dari 100 meter dari pipa gas Pertamina. Jika serangkaian jejak dari pelanggaran hak atas informasi publik tersebut dihilangkan, itu sebuah preseden buruk bagi pengelolaan industri tambang di negeri ini ke depan.

Di luar persoalan di atas, gagasan untuk menjadikan kawasan semburan lumpur sebagai obyek wisata geologis juga mengundang pertanyaan, siapa sebenarnya yang akan diuntungkan jika kawasan itu telah menjadi obyek wisata geologis? Masyarakat sekitar semburan atau justru Grup Bakrie?

Sebagaimana diketahui, sebagian besar tanah di kawasan Porong kini telah dibeli oleh pihak Lapindo atau Grup Bakrie. Pembelokan persoalan ganti rugi menjadi sekadar jual-beli aset korban lumpur ternyata membawa berkah tersendiri bagi Grup Bakrie. Kini Grup Bakrie telah "memiliki" tanah yang begitu luas di Porong, Sidoarjo. Jika kemudian kawasan semburan lumpur dijadikan obyek wisata, dapat dipastikan grup korporasi tersebut yang akan paling diuntungkan, bukan masyarakat sekitar.

Sebagai kepala negara Republik Indonesia, seharusnya pada kunjungan itu Presiden SBY mengeluarkan terobosan gagasan yang dapat menjamin hak-hak korban lumpur tidak terus-menerus dilanggar dan memastikan bahwa kejadian semburan lumpur seperti di Porong tidak akan pernah terjadi di kawasan pertambangan migas lainnya di Indonesia. Bukan justru mengeluarkan gagasan yang berpotensi menjadi preseden buruk pengelolaan industri tambang di Tanah Air dan menguntungkan korporasi yang telah menguasai tanah di Porong, Sidoarjo.


artikel ini pernah dimuat di (c) korantempo.com

Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
lodysetiadi   |2010-05-01 04:21:22
Masalah Lumpur Lpaindo 100% dapat diatasi/dicontrol oleh putra2 terbaik bangsa
ini.
lodysetiadi   |2010-05-01 04:22:39
Masalah Lumpur Lapindo 100% dapat diatasi / dicontrol oleh putra2 terbaik bangsa
ini.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Foto

Video

Marjinal: Jangan Padamkan Semangat

Langganan

Kanal Radio

Ketika Rohman Tidak Mendapatkan Informasi

Dokumen


Warning: is_dir() [function.is-dir]: open_basedir restriction in effect. File(/var/www/virtual/korbanlumpur.info/htdocs/dmdocuments/) is not within the allowed path(s): (/home/httpd/korbanlumpur.info/httpdocs:/home/httpd/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info:/home/korbanlumpur.info/:/tmp:/usr/share/pear:/var/lib/php/session/:/home/kloxo/httpd/script) in /home/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info/administrator/components/com_docman/classes/DOCMAN_file.class.php on line 71

Warning: is_dir() [function.is-dir]: open_basedir restriction in effect. File(/var/www/virtual/korbanlumpur.info/htdocs/dmdocuments/) is not within the allowed path(s): (/home/httpd/korbanlumpur.info/httpdocs:/home/httpd/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info:/home/korbanlumpur.info/:/tmp:/usr/share/pear:/var/lib/php/session/:/home/kloxo/httpd/script) in /home/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info/administrator/components/com_docman/classes/DOCMAN_file.class.php on line 71

Warning: is_dir() [function.is-dir]: open_basedir restriction in effect. File(/var/www/virtual/korbanlumpur.info/htdocs/dmdocuments/) is not within the allowed path(s): (/home/httpd/korbanlumpur.info/httpdocs:/home/httpd/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info:/home/korbanlumpur.info/:/tmp:/usr/share/pear:/var/lib/php/session/:/home/kloxo/httpd/script) in /home/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info/administrator/components/com_docman/classes/DOCMAN_file.class.php on line 71
File Icon Buletin Kanal Korban Lapindo - Edisi 5 (2755)
(Buletin)

File Icon Buletin Kanal Korban Lapindo - Edisi 4 (3075)
(Buletin)

File Icon Buletin Somasi Edisi 01 (109)
(Buletin)

Komentar

Info Donasi

Kamis, 24 November 2011 Gerakan Seribu Rupiah Untuk Pendidikan Anak Korban Lapindo sampai hari ini telah terkumpul donasi sebesar Rp. 20.697.700,- Lihat di sini


Jum'at, 18 November 2011 Gerakan Seribu Rupiah Untuk Pendidikan Anak Korban Lapindo sampai hari ini telah terkumpul donasi sebesar Rp. 19.063.500,- Lihat di sini


Jum'at, 11 November 2011 Gerakan Seribu Rupiah Untuk Pendidikan Anak Korban Lapindo sampai hari ini telah terkumpul donasi sebesar Rp. 18.123.500,- Lihat di sini


Selasa, 18 Oktober 2011 Gerakan Seribu Rupiah Untuk Pendidikan Anak Korban Lapindo sampai hari ini telah terkumpul donasi sebesar Rp. 8.601.200,-  Lihat di sini


Rabu, 05 Oktober 2011 Gerakan Seribu Rupiah Untuk Pendidikan Anak Korban Lapindo sampai hari ini telah terkumpul donasi sebesar Rp. 5.277.200,- Lihat di sini


Kamis, 15 September 2011 Perolehan sementara donasi seribu Rupiah untuk pendidikan anak - anak Korban lumpur Lapindo terkumpul donasi sebesar Rp. 3.669.000,-. Lihat di sini


Senin, 05 September 2011 Perolehan sementara donasi seribu Rupiah untuk pendidikan anak - anak Korban lumpur Lapindo terkumpul donasi sebesar Rp. 2.460.700. Lihat di sini


Selasa, 23 Agustus 2011 Donasi seribu Rupiah untuk pendidikan anak - anak Korban lumpur Lapindo terkumpul donasi sebesar Rp. 1.396.200.


Perolehan sementara donasi Seribu Rupiah untuk Pendidikan Anak Korban Lumpur Lapindo Senin 22 Agustus 2011 Lihat di sini


Perolehan sementara donasi Seribu Rupiah untuk Pendidikan Anak Korban Lumpur Lapindo Per 19 Agustus 2011  Lihat di sini


Ingin mendukung "Aksi Seribu Rupiah"? Lihat di sini..


Daftar pemberi donasi per 2 Agustus 2010, baik secara langsung maupun lewat rekening, lihat di sini.


Senin, 2 Agustus 2010, aksi seribu rupiah untuk pendidikan anak korban lumpur Lapindo telah mengumpulkan donasi sebesar Rp 60.248.475.


Selasa, 20 Juli 2010, sejumlah 24 anak korban Lapindo telah menerima donasi publik untuk biaya pendidikan selama satu tahun. Lihat daftar penerima di sini.


Jum'at, 16 Juli 2010, aksi seribu rupiah untuk pendidikan anak korban lumpur Lapindo telah mengumpulkan donasi sebesar Rp 52.110.675.


Rabu, 14 Juli 2010, 12.30, donasi yang terkumpul sebesar Rp. 50.560.675.


Selasa, 13 Juli 2010, 06:15:34, aksi seribu rupiah untuk pendidikan anak korban lumpur Lapindo telah mengumpulkan donasi sebesar Rp. 35.110.675.

http://walhijatim.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=67:perolehan-donasi-seribu-rupiah-untuk-pendidikan-anak-korban-lumpur&catid=67:donasi&Itemid=105

Pengunjung

We have 67 guests online

Statistik

Members : 71
Content : 752
Web Links : 22
Content View Hits : 869196