Portal Korban Lapindo

Wednesday
Feb 08th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Pilgub di Mata Korban Lumpur Lapindo, Balada Kodok yang Direbus Perlahan

E-mail Print PDF
“Buat apa kami memilih, sementara mereka tidak peduli pada nasib kami?” kata Winarko. Pemilihan gubernur (pilgub), bagi dia, hanya salah satu hari biasa yang tak pantas menguras energi berpikirnya.

 

Oleh: Jurnalis Peduli Korban Lapindo

 

Lelaki plontos lulusan Australia ini lantas menyampaikan ulasannya.


“Kalau kita bicara tentang Jatim, masalah terbesarnya tentulah lumpur Lapindo. Kresnayana Yahya, doktor ITS itu menyebut kerugian ekonomi akibat lumpur Lapindo mencapai Rp 500 miliar per hari. Kerugiannya mulai dari infrastruktur, pariwisata, ekonomi, pendidikan, dan tentu saja hajat hidup masyarakat secara umum, utamanya korban Lapindo. Tapi apa yang terjadi? Tak ada satu pun calon gubernur (cagub) yang menawarkan program penyelesaian untuk para korban. Lha buat apa kami memilih?”

Menurut Winarko, dirinya memang tidak paham mengapa para cagub itu sama sekali tidak menyinggung masalah lumpur ini. “Tapi kalau mau berpikir negatif, ya, karena mereka sudah terbeli oleh pemilik Lapindo. Kelima-limanya,” duganya.

Winarko sadar, Lapindo perkara yang sangat besar. Namun sebagai calon pemimpin Jatim, sudah sewajarnya bila kelima pasang cagub dan cawagub itu memikirkannya. Bila ternyata itu tidak mereka coba, sudah jelas posisi mereka di mana. “Apa dalam kondisi demikian kami masih bisa menaruh harapan? Masih adakah alasan bagi kami untuk memilih? Saya rasa tidak,” tegasnya.

Dalam dunia politik, apalagi di masa kampanye, memberi janji-ianji manis sudah menjadi kebiasaan. Banyak calon yang bahkan berani mengajukan program yang belum sepenuhnya mereka pahami. Toh bila diingkari, jarang warga yang mau gigih menagih.

“Tapi jangan coba-coba pada kami,” kata Winarko. “Kami ini orang-orang peteng (gelap mata,Red.). Mereka pasti tahu apa yang bisa kami lakukan bila kami dibohongi,” lanjutnya, tegas.

Meski begitu, Winarko tidak menjamin bahwa seluruh warga sekitar lumpur, termasuk mereka yang rumah dan sawahnya sudah tenggelam sekali pun, akan golput. Penyebabnya beragam. Selain faktor pendidikan, juga pekewuh. Mereka yang sudah “telanjur” diberi “sangu” oleh tim sukses salah satu cagub, sangat mungkin pekewuh dan akhirnya tetap mencoblos.

Tak bisa disalahkan. Tak perlu disalahkan. Ini memang proses yang sangat panjang dan tidak semua memiliki daya tahan yang sama.

 

Sebenarnya, Winarko punya satu mimpi. Ia bermimpi semua warga, mulai dari korban lumpur hingga warga Kecamatan Porong dan Tanggulangin, lalu Sidoarjo, lalu Jatim, lalu seluruh Indonesia, mau melakukan pembangkangan. Tidak membayar pajak, misalnya.

Dari Jatim, kontribusi pajak mencapai lebih dari Rp 40 triliun per tahun. Yang kembali dalam bentuk DAU, DAK dan lainnya, hanya sekitar Rp 7 triliun. Bila warga Jatim kompak menolak membayar pajak, apa iya pemerintah pusat takkan terusik?Ini yang ada di benak Winarko.

Radikal?

Bisa jadi. Namun belum menurut ukuran pengelola situs http://www.korbanlumpur.info ini. Winarko masih memiliki angan-angan lain. Kalau perlu, kata dia, warga Jatim bahkan bisa menutup bandara atau pelabuhan. Tujuannya bukan merusak. Bukan makar. “Kami hanya ingin pemerintah menoleh, menyadari bahwa persoalan lumpur ini sangat sangat serius dan jauh dari selesai,” katanya.

 

Namun, Winarko menepis sendiri angan-angan itu. Paling tidak untuk saat ini. Radikalisme bonek telah padam. Radikalisme yang semasa remaja pernah membawa dia ke Jakarta hanya untuk menonton salah satu pertandingan Persebaya, tak lagi ia temui. Termasuk di sekelilingnya.

Warga Sidoarjo, di mata konsultan ekonomi ini, sama dengan warga Surabaya. Tegas. Berani. Mengejar kesempatan menonton tim sepakbola idolanya saja mereka mau, apalagi membela hak-haknya. Namun, karakter bonek ini makin lama makin tidak mewujud.

Winarko tidak menyalahkan masyarakat. Ia sadar, kekuatan yang dihadapi adalah raksasa yang sangat pintar dan demikian digdaya. Merekalah yang demikian lihai menerapkan strategi “kodok dalam panci perebusan”.

Kodok, bila langsung dimasukkan dalam panci berisi air mendidih, dia pasti kepanasan dan tentu akan meloncat. Namun, bila kodok itu dimasukkan dalam panci yang dipanaskan dengan api kecil, kodok itu takkan meloncat. Dia tidak merasa kepanasan karena tubuhnya sudah beradaptasi dengan air yang suhunya naik perlahan. Nah, warga korban lumpur Lapindo adalah kodok dalam panci yang dipanaskan secara perlahan itu.

“Jadi, radikalisme bonek itu bukannya serta merta hilang. Hanya, mereka tidak sadar bahwa sedang kepanasan, sedang direbus,” ulasnya.

Winarko sendiri menyadari satu hal. Andai ia ada di Porong sejak pertama kali semburan lumpur itu muncul, mungkin ia akan bersikap sama seperti mayoritas korban lainnnya.

“Awalnya hanya satu sawah yang tergenang. Makin lama, makin lebar. Kian lama, kian banyak fasilitas yang terganggu. Jalan tol terendam lumpur, namun bisa dibersihkan kembali. Terendam, dibersihkan lagi, baru kemudian benar-benar terputus. Jalan raya pun tidak serta merta macet seperti sekarang. Surabaya-Malang meminta waktu tempuh hingga 4 jam setelah lebih dulu naik sepuluh menit demi sepuluh menit. Dalam proses itu, baik warga korban lumpur maupun warga Jatim secara umum menjadi beradaptasi. Keterkejutan yang bisa memicu radikalisme teredam oleh kemampuan alamiah manusia dalam beradaptasi,” urai Winarko.

Arek Tanggulangin tetap kukuh seperti sekarang karena dia tidak ada di kampung halamannya saat lumpur menenggelamkan desa-desa di Sidoarjo Selatan ini. “Saya dapat beasiswa untuk ambil master di Australia selama dua tahun. Begitu pulang, saya melihat desa saya dan sekitarnya sudah menjadi lautan lumpur. Jalan-jalan yang saya kenal, sawah tempat saya bermain, kampung yang udara bersihnya saya hirup, tiba-tiba berubah total. Saya terhenyak. Saya adalah kodok yang langsung nyemplung ke air mendidih. Saya terkejut, terloncat,” katanya. (*)

Tim Media SuaraPorong

 

Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Sukamto  - Bukan hanya bersabar tapi terus berjuang   |2008-07-30 00:14:10
Saya memahami dan berempati atas penderitaan yang dirasakan sebagai akibat
keserakahan korporasi. Namun saya percaya bahwa kawan-kawan korban Lumpur
lapindo akan terus melanjutkan perjuangan melawan.
Negara dan Pemodal yang
notabena orangnya adalah sama dan satu.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Foto

Video

Marjinal: Jangan Padamkan Semangat

Langganan

Kanal Radio

Ketika Rohman Tidak Mendapatkan Informasi

Dokumen


Warning: is_dir() [function.is-dir]: open_basedir restriction in effect. File(/var/www/virtual/korbanlumpur.info/htdocs/dmdocuments/) is not within the allowed path(s): (/home/httpd/korbanlumpur.info/httpdocs:/home/httpd/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info:/home/korbanlumpur.info/:/tmp:/usr/share/pear:/var/lib/php/session/:/home/kloxo/httpd/script) in /home/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info/administrator/components/com_docman/classes/DOCMAN_file.class.php on line 71

Warning: is_dir() [function.is-dir]: open_basedir restriction in effect. File(/var/www/virtual/korbanlumpur.info/htdocs/dmdocuments/) is not within the allowed path(s): (/home/httpd/korbanlumpur.info/httpdocs:/home/httpd/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info:/home/korbanlumpur.info/:/tmp:/usr/share/pear:/var/lib/php/session/:/home/kloxo/httpd/script) in /home/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info/administrator/components/com_docman/classes/DOCMAN_file.class.php on line 71

Warning: is_dir() [function.is-dir]: open_basedir restriction in effect. File(/var/www/virtual/korbanlumpur.info/htdocs/dmdocuments/) is not within the allowed path(s): (/home/httpd/korbanlumpur.info/httpdocs:/home/httpd/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info:/home/korbanlumpur.info/:/tmp:/usr/share/pear:/var/lib/php/session/:/home/kloxo/httpd/script) in /home/korbanlumpur.info/korbanlumpur.info/administrator/components/com_docman/classes/DOCMAN_file.class.php on line 71
File Icon Buletin Kanal Korban Lapindo - Edisi 5 (2755)
(Buletin)

File Icon Buletin Kanal Korban Lapindo - Edisi 4 (3075)
(Buletin)

File Icon Buletin Somasi Edisi 01 (109)
(Buletin)

Komentar

Info Donasi

Kamis, 24 November 2011 Gerakan Seribu Rupiah Untuk Pendidikan Anak Korban Lapindo sampai hari ini telah terkumpul donasi sebesar Rp. 20.697.700,- Lihat di sini


Jum'at, 18 November 2011 Gerakan Seribu Rupiah Untuk Pendidikan Anak Korban Lapindo sampai hari ini telah terkumpul donasi sebesar Rp. 19.063.500,- Lihat di sini


Jum'at, 11 November 2011 Gerakan Seribu Rupiah Untuk Pendidikan Anak Korban Lapindo sampai hari ini telah terkumpul donasi sebesar Rp. 18.123.500,- Lihat di sini


Selasa, 18 Oktober 2011 Gerakan Seribu Rupiah Untuk Pendidikan Anak Korban Lapindo sampai hari ini telah terkumpul donasi sebesar Rp. 8.601.200,-  Lihat di sini


Rabu, 05 Oktober 2011 Gerakan Seribu Rupiah Untuk Pendidikan Anak Korban Lapindo sampai hari ini telah terkumpul donasi sebesar Rp. 5.277.200,- Lihat di sini


Kamis, 15 September 2011 Perolehan sementara donasi seribu Rupiah untuk pendidikan anak - anak Korban lumpur Lapindo terkumpul donasi sebesar Rp. 3.669.000,-. Lihat di sini


Senin, 05 September 2011 Perolehan sementara donasi seribu Rupiah untuk pendidikan anak - anak Korban lumpur Lapindo terkumpul donasi sebesar Rp. 2.460.700. Lihat di sini


Selasa, 23 Agustus 2011 Donasi seribu Rupiah untuk pendidikan anak - anak Korban lumpur Lapindo terkumpul donasi sebesar Rp. 1.396.200.


Perolehan sementara donasi Seribu Rupiah untuk Pendidikan Anak Korban Lumpur Lapindo Senin 22 Agustus 2011 Lihat di sini


Perolehan sementara donasi Seribu Rupiah untuk Pendidikan Anak Korban Lumpur Lapindo Per 19 Agustus 2011  Lihat di sini


Ingin mendukung "Aksi Seribu Rupiah"? Lihat di sini..


Daftar pemberi donasi per 2 Agustus 2010, baik secara langsung maupun lewat rekening, lihat di sini.


Senin, 2 Agustus 2010, aksi seribu rupiah untuk pendidikan anak korban lumpur Lapindo telah mengumpulkan donasi sebesar Rp 60.248.475.


Selasa, 20 Juli 2010, sejumlah 24 anak korban Lapindo telah menerima donasi publik untuk biaya pendidikan selama satu tahun. Lihat daftar penerima di sini.


Jum'at, 16 Juli 2010, aksi seribu rupiah untuk pendidikan anak korban lumpur Lapindo telah mengumpulkan donasi sebesar Rp 52.110.675.


Rabu, 14 Juli 2010, 12.30, donasi yang terkumpul sebesar Rp. 50.560.675.


Selasa, 13 Juli 2010, 06:15:34, aksi seribu rupiah untuk pendidikan anak korban lumpur Lapindo telah mengumpulkan donasi sebesar Rp. 35.110.675.

http://walhijatim.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=67:perolehan-donasi-seribu-rupiah-untuk-pendidikan-anak-korban-lumpur&catid=67:donasi&Itemid=105

Pengunjung

We have 85 guests online

Statistik

Members : 71
Content : 752
Web Links : 22
Content View Hits : 869553