Oleh: Jurnalis Peduli Korban Lapindo
Lelaki plontos lulusan Australia ini lantas menyampaikan ulasannya.
Kalau kita bicara tentang Jatim, masalah terbesarnya tentulah lumpur Lapindo. Kresnayana Yahya, doktor ITS itu menyebut kerugian ekonomi akibat lumpur Lapindo mencapai Rp 500 miliar per hari. Kerugiannya mulai dari infrastruktur, pariwisata, ekonomi, pendidikan, dan tentu saja hajat hidup masyarakat secara umum, utamanya korban Lapindo. Tapi apa yang terjadi? Tak ada satu pun calon gubernur (cagub) yang menawarkan program penyelesaian untuk para korban. Lha buat apa kami memilih?
Menurut Winarko, dirinya memang tidak paham mengapa para cagub itu sama sekali tidak menyinggung masalah lumpur ini. Tapi kalau mau berpikir negatif, ya, karena mereka sudah terbeli oleh pemilik Lapindo. Kelima-limanya, duganya.
Winarko sadar, Lapindo perkara yang sangat besar. Namun sebagai calon pemimpin Jatim, sudah sewajarnya bila kelima pasang cagub dan cawagub itu memikirkannya. Bila ternyata itu tidak mereka coba, sudah jelas posisi mereka di mana. Apa dalam kondisi demikian kami masih bisa menaruh harapan? Masih adakah alasan bagi kami untuk memilih? Saya rasa tidak, tegasnya.
Dalam dunia politik, apalagi di masa kampanye, memberi janji-ianji manis sudah menjadi kebiasaan. Banyak calon yang bahkan berani mengajukan program yang belum sepenuhnya mereka pahami. Toh bila diingkari, jarang warga yang mau gigih menagih.
Tapi jangan coba-coba pada kami, kata Winarko. Kami ini orang-orang peteng (gelap mata,Red.). Mereka pasti tahu apa yang bisa kami lakukan bila kami dibohongi, lanjutnya, tegas.
Meski begitu, Winarko tidak menjamin bahwa seluruh warga sekitar lumpur, termasuk mereka yang rumah dan sawahnya sudah tenggelam sekali pun, akan golput. Penyebabnya beragam. Selain faktor pendidikan, juga pekewuh. Mereka yang sudah telanjur diberi sangu oleh tim sukses salah satu cagub, sangat mungkin pekewuh dan akhirnya tetap mencoblos.
Tak bisa disalahkan. Tak perlu disalahkan. Ini memang proses yang sangat panjang dan tidak semua memiliki daya tahan yang sama.
Sebenarnya, Winarko punya satu mimpi. Ia bermimpi semua warga, mulai dari korban lumpur hingga warga Kecamatan Porong dan Tanggulangin, lalu Sidoarjo, lalu Jatim, lalu seluruh Indonesia, mau melakukan pembangkangan. Tidak membayar pajak, misalnya.
Dari Jatim, kontribusi pajak mencapai lebih dari Rp 40 triliun per tahun. Yang kembali dalam bentuk DAU, DAK dan lainnya, hanya sekitar Rp 7 triliun. Bila warga Jatim kompak menolak membayar pajak, apa iya pemerintah pusat takkan terusik?Ini yang ada di benak Winarko.
Radikal?
Bisa jadi. Namun belum menurut ukuran pengelola situs http://www.korbanlumpur.info ini. Winarko masih memiliki angan-angan lain. Kalau perlu, kata dia, warga Jatim bahkan bisa menutup bandara atau pelabuhan. Tujuannya bukan merusak. Bukan makar. Kami hanya ingin pemerintah menoleh, menyadari bahwa persoalan lumpur ini sangat sangat serius dan jauh dari selesai, katanya.
Namun, Winarko menepis sendiri angan-angan itu. Paling tidak untuk saat ini. Radikalisme bonek telah padam. Radikalisme yang semasa remaja pernah membawa dia ke Jakarta hanya untuk menonton salah satu pertandingan Persebaya, tak lagi ia temui. Termasuk di sekelilingnya.
Warga Sidoarjo, di mata konsultan ekonomi ini, sama dengan warga Surabaya. Tegas. Berani. Mengejar kesempatan menonton tim sepakbola idolanya saja mereka mau, apalagi membela hak-haknya. Namun, karakter bonek ini makin lama makin tidak mewujud.
Winarko tidak menyalahkan masyarakat. Ia sadar, kekuatan yang dihadapi adalah raksasa yang sangat pintar dan demikian digdaya. Merekalah yang demikian lihai menerapkan strategi kodok dalam panci perebusan.
Kodok, bila langsung dimasukkan dalam panci berisi air mendidih, dia pasti kepanasan dan tentu akan meloncat. Namun, bila kodok itu dimasukkan dalam panci yang dipanaskan dengan api kecil, kodok itu takkan meloncat. Dia tidak merasa kepanasan karena tubuhnya sudah beradaptasi dengan air yang suhunya naik perlahan. Nah, warga korban lumpur Lapindo adalah kodok dalam panci yang dipanaskan secara perlahan itu.
Jadi, radikalisme bonek itu bukannya serta merta hilang. Hanya, mereka tidak sadar bahwa sedang kepanasan, sedang direbus, ulasnya.
Winarko sendiri menyadari satu hal. Andai ia ada di Porong sejak pertama kali semburan lumpur itu muncul, mungkin ia akan bersikap sama seperti mayoritas korban lainnnya.
Awalnya hanya satu sawah yang tergenang. Makin lama, makin lebar. Kian lama, kian banyak fasilitas yang terganggu. Jalan tol terendam lumpur, namun bisa dibersihkan kembali. Terendam, dibersihkan lagi, baru kemudian benar-benar terputus. Jalan raya pun tidak serta merta macet seperti sekarang. Surabaya-Malang meminta waktu tempuh hingga 4 jam setelah lebih dulu naik sepuluh menit demi sepuluh menit. Dalam proses itu, baik warga korban lumpur maupun warga Jatim secara umum menjadi beradaptasi. Keterkejutan yang bisa memicu radikalisme teredam oleh kemampuan alamiah manusia dalam beradaptasi, urai Winarko.
Arek Tanggulangin tetap kukuh seperti sekarang karena dia tidak ada di kampung halamannya saat lumpur menenggelamkan desa-desa di Sidoarjo Selatan ini. Saya dapat beasiswa untuk ambil master di Australia selama dua tahun. Begitu pulang, saya melihat desa saya dan sekitarnya sudah menjadi lautan lumpur. Jalan-jalan yang saya kenal, sawah tempat saya bermain, kampung yang udara bersihnya saya hirup, tiba-tiba berubah total. Saya terhenyak. Saya adalah kodok yang langsung nyemplung ke air mendidih. Saya terkejut, terloncat, katanya. (*)
Tim Media SuaraPorong
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|








kami Do'akan semoga perjuangan warga ...
kasihan para korban lumpur lapindo, m...
awalnya di perkirakan kelalaian seka...
ga kuat mo kasih komentar.....cm bs i...